Monday, July 11, 2016

Momen Ramadan & Idul Fitri 1437 Hijriah (2016) CHAPTER 1

Tulisan ini sebetulnya iseng aja mengulas perjalanan 1 bulan ke belakang, walaupun saya bukan story teller yang ulung tapi saya mencoba untuk menjadi pribadi yang senantiasa memperbaiki diri dari waktu ke waktu dengan selalu mengambil pelajaran dari berbagai momen yang terjadi di dalam kehidupan dan kebetulan momen sekarang yang lagi booming yaitu tentang bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1437H. Pasti ada aja lahh pengalaman di kedua momen ini di setiap tahunnya, sebelum maupun sesudahnya…. Dan inilah cerita saya….

CHAPTER 1

RAMADAN
Dimulai dari bulan Ramadan, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya menjalankan ibadah puasa di kampung tercinta, Desa Garawangi Kabupaten Kuningan. Kuliah sudah libur semenjak berakhirnya UAS di awal Mei, masuk lagi sekitar pertengahan Agustus dan kebetulan nilai UAS akan diumumkan sebentar lagi, tanggal 12 juli, semoga target IP semester sekarang bisa tercapai yaaa. Aminnn…..

Ahhh…bulan Ramadan sekarang terlalu manis untuk ditinggalkan sepertinya. Gimana enggak coba, saya begitu drastis melakukan ibadah di Ramadan kali. Semua target yang saya pasang untuk 1 bulan mayoritasnya tercapai

Puasa FULL

Sahur FULL

Taraweh absen 1X
ketika bukber sama anak-anak X-Cihuy

Sholat FULL

Tadarus FULL

Sholat Shubuh Berjamaah absen 3X
Ketika nyuci pakean dan perabot waktu ibu lagi sakit, adu penalti Portugal vs Polandia dan Italia vs Jerman

Sebelum Ramadan datang, saya memang membuat sebuah ceklis untuk dapat mengevaluasi sejauh mana pencapaian di bulan Ramadan kali ini untuk dapat menjadi acuan di bulan-bulan yang lain dan Ramadan yang akan datang. Semoga kita semua dipertemukan kembali dengannya, Aminnn……
Saya menceritakan ini sebetulnya sedih juga harus berpisah dengan bulan suci yang pahalanya berlipat-lipat, bulan diklat untuk mengontrol hawa nafsu, bulan diet yang paling barokah, dan bulan dengan segala berjuta-juta rahmat dan ridho dari Allah SWT. Sisi sedihnya adalah ketika saya tidak mampu mengamalkan apa yang sudah saya tamatkan di bulan Ramadan, tidak dapat saya aplikasikan di bulan-bulan lainnya.

Saya juga berpikir bahwa mungkin ketika saya sudah bekerja nanti, mungkin saya tidak seleluasa seperti sekarang libur kuliah pas Ramadan dipake khusyuk untuk ibadah, saya ambil sisi positifnya aja bahwa selagi ada kesempatan maka harus dimaksimalkan.
Ramadan kali ini begitu penuh dengan rentetan hiasan kenangan, dimulai dengan kedua kalinya menjadi bilal waktu taraweh di Mushola Nurul Islam, tempat dimana saya biasa sholat berjamaah, terus menikmati keindahan Ramadan ditemani kompetisi Copa America Centenario di USA dan UEFA EURO di Perancis, Ikut seleksi untuk menjadi delegasi UPBJJ Bandung untuk Disporseni UT di Surakarta dan beberapa momen lainnya yang tak bisa saya ceritakan satu-satu termasuk mama yang jatuh sakit sampe berlarut-larut. Cepet sembuh ya maaaa……!!!

Ramadan tahun ini saya manfaatkan dengan memanjatkan beberapa harapan dan cita-cita untuk ke depannya di hadapan Allah SWT bahwasannya semoga target nilai semester 6 tercapai, dilancarkan TAP dan Karil untuk semester depan, lebih mahir lagi ber-Bahasa inggris, kuliah yang tinggal 1 tahun lagi semoga bisa lulus tepat pada waktunya dan semoga bisa langsung melanjutkan S2 mengambil konsentrasi Perencanaan Tata Guna Lahan dan Perencanaan Lingkungan di Amerika dengan bekal beasiswa LPDP atau Fulbright. Besar harapan saya kepada Tuhan YME, Allah SWT untuk mengabulkan doa saya dan haqul yakin doa-doa saya di bulan suci ini dapat diijabah sepenuhnya. Aminnn….

THE END OF RAMADAN
Waktu begitu cepat berlalu, hingga tak terasa hari nan fitri pun akan segera tiba. Teman-teman yang bekerja di kota pun pada mudik. Di sela-sela akhir Ramadan saya sempatkan untuk kumpul-kumpul dengan mereka termasuk bukber X-Cihuy di RM. Ali Action Taman Kota Kuningan di H-2 menjelang lebaran. Walaupun hidangan hanya dengan ayam goreng, tapi kami sangat menikmati momen kebersamaan itu. Tak ada hal yang manis selain kebersamaan yang terjalin kembali. Hanya 2 orang yang absen waktu itu, Cucu yang sedang bekerja di Ria Busana dan Toni yang memutuskan untuk lebaran di kota. Sangat disayangkan memang namun harus gimana lagi, satu hal yang tak bisa dipaksakan.

LEBARAN
Gaung takbir menggema sesaat setelah buka puasa di akhir Ramadan dan menandai akan tibanya hari kemenangan. Satu hal yang disayangkan oleh saya waktu itu ialah tidak bisa ikut takbir keliling maupun takbir di mushola, badan tiba-tiba meminta untuk segera beristirahat dan saya memutuskan untuk tidur saja waktu itu, saya juga mengurungkan niat sama teman-teman yang mengajak main PS3 di Rental A Andri.
Pagi hari saya langkahkan kaki ke masjid Nurul Huda Desa Garawangi untuk melaksanakan sholat Ied, disaat mama terbaring di Kasur, beliau jatuh sakit lagi di idul fitri kali ini. Saya mengikuti ibadah sholat ied secara saksama dimulai dari penyambutan jamaah oleh saya selaku anggota ‘semu’ remaja masjid Nurul Huda, karena ada teman yang mengajak dan tidak tega mereka ditinggal hanya berdua di jajaran sebelah barat pintu gerbang utara, Zaki dan Fauzi; sampai dengan berakhirnya khutbah.

Khutbah sholat Ied waktu itu disampaikan oleh Pak Kiai Emod dari Blok Pabrik, khotib favorit saya di Desa Garawangi ini. Beliau dengan biasanya menyampaikan materi dengan berapi-api. Ketika itu beliau menyampaikan materi yang mainstream di momen idul fitri berkenaan Ramadan yang sudah berlalu dan memaknai hari raya idul fitri sebagai hari yang agung sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Ada satu momen yang beliau sampaikan waktu itu sampai saya menitikkan air mata yakni ketika beliau menegaskan dengan gaya khasnya bahwa doa-doa, harapan dan keinginan yang dipanjatkan di bulan Ramadan pasti akan di ijabah oleh Allah SWT, lalu saya teringat beberapa harapan dan cita-cita yang saya panjatkan waktu itu di bulan Ramadan, terutama untuk menggapai mimpi besar saya dapat menginjakkan kaki dan menimba ilmu di negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Dengan penuh pengharapan saya memanjatkan doa tersebut semoga Allah mengijabahnya dan membukakan jalan seorang anak kampung dan pemimpi ini untuk bisa menuju kesana. Aminnn….Yaa Robbal Alamin….

Setelah sholat Ied selesai saya bergegas pulang untuk bermuhasabah dengan keluarga di rumah dan para tetangga. Dengan berurai air mata saya peluk ibu yang saat itu sedang terbaring sakit untuk meminta maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan saya pada beliau, saya juga meminta doa untuk bisa dilancarkan pendidikan S1 saya yang tinggal 1 tahun lagi; dan semoga segala apa yang saya cita-citakan tercapai termasuk membawa beliau umrah bersama ke Baitullah, Mekkah Al Mukarromah.
Selanjutnya adalah ziarah ke makam seperti biasa saya yang memimpin tahlilnya. Setelah dari makam mungkin tak ada yang spesial lagi karena setelah itu saya beserta rombongan keluarga langsung ke rumah untuk menerima tamu yang silih berdatangan, entah itu tetangga sekitar, sanak saudara dari Desa Pasayangan maupun yang dari Desa Garawangi sendiri.

No comments:

Post a Comment